Tampilkan postingan dengan label Jobsheet Praktikum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jobsheet Praktikum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Januari 2026

Desiminate Media Ajar Embedded System Programming Menggunakan Trainer dan E-Jobsheet Berbasis Arduino Nano di SMK

Media Ajar Embedded System Programming Menggunakan Trainer dan E-Jobsheet Berbasis Arduino Nano di SMK
By. Wiyono (Iyon Manakarra)


Pengembangan media pembelajaran merupakan salah satu upaya strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kejuruan, khususnya pada mata pelajaran Embedded System Programming di SMK Jurusan Teknik Elektronika Industri. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan dengan model 4-D (Define, Design, Develop, dan Disseminate), pada Program Pascasarjana PPS-UNM Makassar Tahun 2026, telah dihasilkan Trainer Embedded System Programming berbasis Arduino Nano yang terintegrasi dengan E-Jobsheet digital. Media ini dirancang untuk menjawab permasalahan pembelajaran praktik, seperti keterbatasan trainer, penggunaan jobsheet konvensional, serta rendahnya keterlibatan siswa dalam praktik pemrograman mikrokontroler. Integrasi trainer fisik dan E-Jobsheet digital diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik secara lebih kontekstual.


 
E-Jobsheet yang dikembangkan berbasis Google Sites sehingga mudah diakses melalui berbagai perangkat, baik laptop maupun smartphone. Di dalamnya tersedia materi ringkas, panduan praktik langkah demi langkah, gambar rangkaian, contoh kode program, serta evaluasi interaktif yang mendukung pembelajaran mandiri dan berbasis proyek. Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa media ini berada pada kategori Layak hingga Sangat Layak, sedangkan hasil uji kepraktisan pada siswa dan guru menunjukkan kategori Sangat Praktis. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa E-Jobsheet dan Trainer tidak hanya mudah digunakan, tetapi juga efektif dalam mendukung pencapaian capaian pembelajaran pada elemen pemrograman sistem embedded, khususnya dalam penerapan input/output digital, analog, dan komunikasi serial.


Sebagai bagian dari tahap penyebaran (disseminate), E-Jobsheet ini dibagikan secara terbuka agar dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa SMK secara lebih luas sebagai referensi pembelajaran praktik pemrograman Arduino. Guru dapat mengadopsi media ini sebagai alternatif bahan ajar berbasis proyek, sementara siswa dapat menggunakannya untuk latihan mandiri di luar jam pelajaran. E-Jobsheet dapat diakses melalui tautan berikut:

👉 https://sites.google.com/guru.smk.belajar.id/e-jobsheet-arduino-programming


Diharapkan media pembelajaran ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran vokasi, memperkuat keterampilan praktik siswa, serta mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang relevan dengan kebutuhan dunia industri.


LINK PRODUK


Salam:
Iyon Manakarra

Sabtu, 10 Mei 2025

Penerapan kode program FreeRTOS - Free Real Time Operating Sytem, pada pemograman multitasking ESP32

Penerapan kode program FreeRTOS - Free Real Time Operating Sytem, pada pemograman multitasking ESP32

By. Iyon Manakarra

A.     Pendahuluan

1.      Apa itu  FreeRTOS

FreeRTOS (Free Real-Time Operating System) adalah sistem operasi real-time open-source yang ringan dan dirancang untuk mikrokontroler dan sistem embedded. FreeRTOS memberikan kemampuan multitasking (menjalankan beberapa tugas atau task secara bergantian) dengan penggunaan sumber daya yang sangat efisien — ideal untuk perangkat dengan memori dan prosesor terbatas seperti Arduino, ESP32, STM32, dan lainnya.

2.      Fitur Utama FreeRTOS :

a.      Multitasking: Menjalankan beberapa task secara konkuren menggunakan penjadwalan berbasis prioritas.

b.      Task Management: Setiap task bisa dibuat, dijeda, dimulai ulang, atau dihentikan.

c.      Inter-task Communication:

-       Queue (antrian pesan)

-       Semaphore & Mutex (sinkronisasi antar-task)

-       Event Groups

d.      Timer: Mendukung software timer untuk menjalankan fungsi tertentu setelah waktu tertentu.

e.      Lightweight: Biasanya hanya membutuhkan beberapa KB RAM.

f.       Portabilitas Tinggi: Bisa digunakan di banyak arsitektur mikrokontroler (ARM Cortex-M, AVR, ESP32, dsb.).

3.      Percobaan Uji coba Program sederhana menggunakan FreeRtos

a.      Deskripsi :

Program ini merupakan contoh sederhana penggunaan FreeRTOS pada Arduino untuk menjalankan dua tugas (task) secara paralel. Tugas pertama (TaskBlink) mengendalikan sebuah LED yang terhubung ke pin GPIO2 untuk berkedip dengan interval 500 milidetik, sedangkan tugas kedua (TaskSerial) secara berkala mencetak pesan "Running serial task..." ke Serial Monitor setiap 1 detik.

b.      Skematik ESP-32 :

c.      Kode Program Sketch :

#include <Arduino.h>

 

void TaskBlink(void *pvParameters) {

  pinMode(2, OUTPUT);

  while (1) {

    digitalWrite(2, HIGH);

    vTaskDelay(500 / portTICK_PERIOD_MS);

    digitalWrite(2, LOW);

    vTaskDelay(500 / portTICK_PERIOD_MS);

  }

}

void TaskSerial(void *pvParameters) {

  while (1) {

    Serial.println("Running serial task...");

    vTaskDelay(1000 / portTICK_PERIOD_MS);

  }

}

void setup() {

  Serial.begin(115200);

  xTaskCreate(TaskBlink, "Blink Task", 1000, NULL, 1, NULL);

  xTaskCreate(TaskSerial, "Serial Task", 1000, NULL, 1, NULL);

}

void loop() {

  // kosong, semua dijalankan oleh FreeRTOS

}

 

d.      Hasil Pengujian Program :

Berdasarkan hasil pengujian, program berhasil menjalankan dua task secara paralel tanpa gangguan. LED pada pin GPIO2 berkedip dengan stabil setiap 500 milidetik, menunjukkan bahwa TaskBlink berjalan sesuai waktu yang ditentukan. Secara bersamaan, Serial Monitor menampilkan pesan "Running serial task..." dengan interval yang konsisten setiap 1 detik, menandakan bahwa TaskSerial juga berfungsi dengan baik. Tidak ditemukan konflik atau gangguan antara kedua task, yang menunjukkan bahwa FreeRTOS berhasil melakukan penjadwalan multitasking secara efisien dan real-time. Sistem tetap responsif dan stabil selama pengujian.

e.      Link Video Hasil Simulasi  :

Nama Video               : Penerapan kode program FreeRTOS - Free Real Time Operating Sytem, pada

  pemograman multitasking ESP32

Link durasi ke            : https://youtu.be/mFPd69qe7fg

Menit                           : 00:00 – 01:30





Sabtu, 04 Januari 2025

LEMBAR KERJA PESERTA : Pemrograman Dasar Arduino Uno, DC Motor Speed Control : Motor DC, Potensiometer dan LED

LEMBAR KERJA (JOBSHEET) PESERTA
Perakitan Dan Pemrograman Dasar Arduino Uno 

DC Motor Speed Control : Motor DC, Potensiometer dan LED

Oleh : Iyon Manakarra // Mekatronika Manakarra

Motor DC Arduino Mekatronika Manakarra
A.    Tujuan Pelatihan

Setelah peserta pelatihan selesai melaksanakan kegiatan praktik perakitan dan pemograman dasar arduino, sensor dan aktuator diharapkan peserta kompoten dalam :

1. Merakit komponen sensor dan aktuator pada pin arduino sesuai dengan gambar skematik.

2. Menulis sketch program pada aplikasi Arduino IDE sesaui aturan penulisan instruksi Program.

3. Mengcompile, Mengupload dan mengoprasikan program sesuai tujuan program percobaan.


B.    Alat dan Bahan

1.     Arduino Uno.

2.     Kabel Data + Kabel OTG.

3.     Sensor dan Aktutor Kits.

4.     Laptop.

5.     HP/Smart Phone.

6.     Aplikasi Arduino IDE.

7.     Aplikasi Arduino Droid.


C.    Keselamatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu dilakukan pada waktu melakukan praktik kerja ini adalah :

1.     Bertindak berdasarkan sikap kerja yang sudah ditetapkan sehingga diperoleh hasil seperti yang diharapkan, jangan sampai terjadi kesalahan karena ketidak – telitian  dan tidak taat asas.

2.     Menghubungkan kaki-kaki komponen pada pin arduino dengan berdasarkan gambar kerja pada skematik percobaan.

3.     Tunjukan hasil rakitan kepada instruktur terlebih dahulu ketika ingin memulai ujicoba.

4.     Menyalakan dan mematikan komputer harus sesuai dengan prosedur.

5.     Dianjurkan gunakan power suplay external pada board Arduino 9-12VDC ketika menggunakan HP dalam mengupload program.

D.    Langkah Kerja Percobaan

1.     Blinking : LED + Buzzer

> Skematik 


> Koneksi PIn

Pin Komponen

Pin Arduino

Keterangan

Kaki + Motor DC

+5V

Catudaya +5V

Kaki – Motor DC

Pin Digital 5

Output

Terminal 1 Potensiometer

+5V

Catudaya +5V

Terminal 2 Potensiometer

Pin Analog A0

Input

Terminal 3 Potensiometer

GND

Catudaya -


> Sketch Program

/*

Nama Program : DC Motor Speed Control : Motor DC, Potensiometer dan LED

*/

  

#define MotorPin 5 //Inisialisasi motor di pin D5

#define PotensioPin 0 //Inisialisasi potensiometer di pin A1

 

int kecepatan = 0; //Buat variabel kecepatan

 

void setup() {

  Serial.begin(9600);

  pinMode(MotorPin, OUTPUT); //Setting motor sebagai output

  pinMode(PotensioPin, INPUT); //Setting potensiometer sebagai input

}

 

void loop() {

  kecepatan = analogRead(PotensioPin); //Baca nilai potensiometer

  kecepatan = map(kecepatan, 0, 1023, 0, 255); //Konversi dari 10bit ke 8bit

  analogWrite(MotorPin, kecepatan); //Jalankan motor sesuai kecepatan

  delay(20); //Jeda 20ms

  Serial.println(kecepatan);

}

  



Link Video : Folow Akun Youtube "Mekatronika Manakarra"


Rabu, 25 Desember 2024

LEMBAR INFORMASI KOMPONEN INTERFACE INPUT-OUTPUT MIKROKONTROLLER

LEMBAR INFORMASI
KOMPONEN INTERFACE INPUT-OUTPUT MIKROKONTROLLER
Oleh : Iyon Manakarra // Mekatronika Manakarra


Pengenalan Komponen dan Perangkat Dasar

1.     Light Emitting Dioda (LED).

LED (Light Emitting Dioda) adalah dioda yang dapat memancarkan cahaya pada saat mendapat arus bias maju (forward bias). LED (Light Emitting Dioda)  dapat memancarkan cahaya karena menggunakan dopping galium, arsenic dan phosporus. Jenis doping  yang berbeda diata dapat menhasilkan cahaya dengan warna yang berbeda. LED (Light Emitting Dioda) merupakann salah satu jenis dioda, sehingga hanya akan mengalirkan arus listrik satu arah saja. LED akan memancarkan cahaya apabil diberikan tegangan listrik dengan konfigurasi forward bias. Berbeda dengan dioda pada umumnya, kemampuan mengalirkan arus pada LED (Light Emitting Dioda) cukup rendah yaitu maksimal 20 mA. Apabila LED (Light Emitting Dioda)  dialiri arus lebih besar dari 20 mA maka LED akan rusak, sehingga pada rangkaian LED dipasang sebuah resistor sebgai pembatas arus. Simbol dan bentuk fisik dari LED (Light Emitting Dioda) dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Simbol dan bentuk fisik LED

Gambar 1 memperlihatkan bahwa LED memiliki kaki 2 buah seperti dengan dioda yaitu kaki anoda dan kaki katoda. Pada gambar diatas kaki anoda memiliki ciri fisik lebih panjang dari kaki  katoda  pada  saat  masih  baru,  kemudian  kaki  katoda  pada  LED  (Light  Emitting Dioda) ditandai dengan bagian body LED yang di papas rata. Kaki anoda dan kaki katoda pada LED (Light Emitting Dioda) disimbolkan seperti pada gambar diatas. Pemasangan LED (Light Emitting Dioda) agar dapat menyala adalah dengan memberikan tegangan bias maju yaitu dengan memberikan tegangan positif ke kaki anoda dan tegangan negatif ke kaki katoda.

2.     Buzzer.

Buzzer adalah sebuah komponen elektronika yang mengubah energy listrik menjadi energy Mekanik atau getaran. Energy getaran ini akan mengahasilkan suara. Buzzer juga biasanya digunakan untuk indicator suara untuk alarm, input keypad, dan pemberitahuan kerusakan pada sebuah system electronic, seperti di mother board computer.

Buzzer ini biasanya memiliki tegangan kerja antara 3 volt sampe dengan 12 volt, biasanya jika kita beli sudah di jelaskan tegangan kerja nya. jika teganga kerja di bawah 5 volt bisa kita langsung hubungkan ke Arduino. Tapi jika tegangan kerja nya menggunakan 12 volt, maka kita membutuhkan rangkaian driver untuk buzzer, biasa nya saya sendiri menggunakan transistor 2n2222 sebagai penguat untuk tegangan buzzer nya.

Jenis2 buzzer pada rangkaian Arduino berdasarkan bunyinya terbagi atas dua, yaitu:

a)     Active Buzzer, yaitu buzzer yang sudah memiliki suaranya sendiri saat diberikan tegangan listrik. Buzzer aktif Arduino jenis ini seringkali juga disebut buzzer stand alone atau berdiri sendiri.

b)     Passive Buzzer, yaitu buzzer yang tak memiliki suara sendiri. Buzzer jenis ini sangat cocok dipadukan dengan Arduino karena kita bisa memprogram tinggi rendah nadanya. Salah satu contohnya adalah speaker.


Gambar 2. Jenis Buzzer

3.     Infra Red Sensor.
        Modul infrared (IR) sensor ini memiliki sepasang pemancar dan penerima inframerah. Frekwensi inframerah yang dipancarkan mengenai permukaan halangan/rintangan (objek terdeteksi) akan dipantulkan kembali dan diterima oleh bagian penerima inframerah. Setelah diproses oleh rangkaian pembanding (comparator), lampu hijau akan menyala dan mengeluarkan sinyal digital (digital output) rendah. Jarak deteksi dapat diatur dengan potensiometer, dengan jarak efektif 2-30cm, tegangan kerja 3.3V - 5V. Mudah dipasang, mudah digunakan, banyak dipakai pada robot penghindar rintangan, penghindar halangan pada mobil, penghitung garis dan pelacak garis hitam putih dan banyak kegunaan lainnya.

Gambar 3. Rangkaian modul IR

Prinsip kerja dari modul ini adalah sebagai berikut:

1. ketika modul ini mendeteksi halangan di depan sinyal inframerah, lampu indikator warna hijau akan menyala dan port output mengeluarkan sinyal rendah secara menerus. Module ini dapat mendeteksi jarak 2 - 30cm dengan sudut deteksi 35 derajat. Jarak deteksi dapat dinaikkan dengan memutar potensio searah jarum jam dan untuk mengurangi jarak deteksi diputar berlawanan arah jarum jam;

2. sensor aktif inframerah mendeteksi pantulan, oleh karenanya bentuk pantulan dari objek sangat penting. Permukaan warna hitam memiliki permukaan pantulan yang paling kecil dan permukaan putih memiliki pantulan yang paling besar;

3. port output dapat dihubungkan langsung dengan IO port pada mikrokontroler atau dapat juga langsung dihubungkan dengan relay 5V. Memiliki spesifikasi teknis dimana tegangan external (VCC) berkisar antara 3,3V hingga 5V, GND (ground) dengan ouput digital 0 dan1.

4. menggunakan pembanding LM393 comparator yang stabil; dan dapat digunakan pada tegangan 3-5V DC dan ketika diaktifkan, lampu indikator warna merah menyala.


4.     Sensor Ultrasonik PING.

 Sensor ultrasonik adalah sebuah sensor yang berfungsi untuk mengubah besaran fisis (bunyi) menjadi besaran listrik dan sebaliknya. Cara kerja sensor ini didasarkan pada prinsip dari pantulan suatu gelombang suara sehingga dapat dipakai untuk menafsirkan eksistensi (jarak) suatu benda dengan frekuensi tertentu. Disebut sebagai sensor ultrasonik karena sensor ini menggunakan gelombang ultrasonik (bunyi ultrasonik).

Gelombang ultrasonik adalah gelombang bunyi yang mempunyai frekuensi sangat tinggi yaitu 20.000 Hz. Bunyi ultrasonik tidak dapat di dengar oleh telinga manusia. Bunyi ultrasonik dapat didengar oleh anjing, kucing, kelelawar, dan lumba-lumba. Bunyi ultrasonik bisa merambat melalui zat padat, cair dan gas. Reflektivitas bunyi ultrasonik di permukaan zat padat hampir sama dengan reflektivitas bunyi ultrasonik di permukaan zat cair. Akan tetapi, gelombang bunyi ultrasonik akan diserap oleh tekstil dan busa. Pada sensor ultrasonik, gelombang ultrasonik dibangkitkan melalui sebuah alat yang disebut dengan piezoelektrik dengan frekuensi tertentu. Piezoelektrik ini akan menghasilkan gelombang ultrasonik (umumnya berfrekuensi 40kHz) ketika sebuah osilator diterapkan pada benda tersebut. Secara umum, alat ini akan menembakkan gelombang ultrasonik menuju suatu area atau suatu target. Setelah gelombang menyentuh permukaan target, maka target akan memantulkan kembali gelombang tersebut. Gelombang pantulan dari target akan ditangkap oleh sensor, kemudian sensor menghitung selisih antara waktu pengiriman gelombang dan waktu gelombang pantul diterima.

Gambar 4. Cara kerja sensor ultrasonik dengan transmitter dan receiver (atas),sensor ultrasonik dengan single sensor yang berfungsi sebagai transmitter dan receiver sekaligus

Secara detail, cara kerja sensor ultrasonik adalah sebagai berikut:

 ü  Sinyal dipancarkan oleh pemancar ultrasonik dengan frekuensi tertentu dan dengan durasi waktu tertentu. Sinyal tersebut berfrekuensi diatas 20kHz. Untuk mengukur jarak benda (sensor jarak), frekuensi yang umum digunakan adalah 40kHz.

ü  Sinyal  yang dipancarkan  akan  merambat  sebagagelombang bunyi  dengakecepatan sekitar 340 m/s. Ketika menumbuk suatu benda, maka sinyal tersebut akan dipantulkan oleh benda tersebut.

ü  Setelah gelombang pantulan sampai di alat penerima, maka sinyal tersebut akan diproses untuk menghitung jarak benda tersebut. Jarak benda dihitung berdasarkan rumus:

S = 0,034.t/2

 

dimana S merupakan jarak antara sensor ultrasonik dengan benda (bidang pantul), dan t adalah selisih antara waktu (durasi) pemancaran gelombang oleh transmitter dan waktu ketika gelombang pantul diterima receiver.


 5.     Motor Servo.

Motor servo adalah jenis motor DC dengan sistem umpan balik tertutup yang terdiri dari sebuah motor DC, serangkaian gear, rangkaian kontrol, dan juga potensiometer. Jadi motor servo sebenarnya tak berdiri sendiri, melainkan didukung oleh komponen-komponen lain yang berada dalam satu paket. Sedangkan fungsi potensiometer dalam motor servo adalah untuk menentukan batas sudut dari putaran servo. Sementara sudut sumbu motor servo dapat diatur berdasarkan lebar pulsa yang dikirim melalui kaki sinyal dari kabel servo itu sendiri. Oleh karena itu motor servo dapat berputer searah dan berlawanan arah jarum jam. Motor servo dapat menampilkan gerakan 0 derajat, 90 derajat, 180 derajat, hingga 360 derajat. Tak heran jika motor ini banyak diaplikasikan untuk penggerak kaki dan juga lengan robot. Selain itu motor servo juga memiliki torsi yang besar sehingga mampu menopang beban cukup berat.

Gambar 5. Bagian-bagian motor servo

Prinsip kerja dari motor servo tak jauh berbeda dibanding dengan motor DC yang lain. Hanya saja motor ini dapat bekerja searah maupun berlawanan jarum jam. Derajat putaran dari motor servo juga dapat dikontrol dengan mengatur pulsa yang masuk ke dalam motor tersebut. Motor servo akan bekerja dengan baik bila pin kontrolnya diberikan sinyal PWM dengan frekwensi 50 Hz. Frekwensi tersebut dapat diperoleh ketika kondisi Ton duty cycle berada di angka 1,5 ms. Dalam posisi tersebut rotor dari motor berhenti tepat di tengah-tengah alias sudut nol derajat atau netral. Pada saat kondisi Ton duty cycle kurang dari angka 1,5 ms, maka rotor akan berputar berlawanan arah jarum jam. Sebaliknya pada saat kondisi Ton duty cycle lebih dari angka 1,5 ms, maka rotor akan berputar searah jarum jam.

Gambar 6. Skema pulsa kendali motor servo

6.     Push Button.

Push button adalah sebuah komponen elektronika yang bermanfaat untuk menghubungkan listrik dan memutuskan listrik. Push button ini dapat kita gunakan sebagai inputan ke pada Arduino, apakah button ini dalam kondisi HIGH atau kondisi LOW.

Ada dua jenis kondisi push button yang biasa kita lihat pada rangkaian Arduino, Yang itu PULLDOWN dan PULLUP. Pulldown adalah dimana kondisi awal push button dalam kondisi LOW, dan PUllUP kondisi awal dalam kondisi HIGH. Untuk Lebih jelas nya bisa lihat pada gambar di bawah ini.


                                        Gambar 7.    a.Rangkaian Pull Up   b. Rangkaian Pull Down

Push button yang akan kita gunakan dalam artikel ini juga dikenal sebagai sakelar taktil atau momentary push button:

Gambar 8. Macam – macam pushbutton

Pin di setiap sisi button memiliki kontak listrik di dalam button housing. Button itu sendiri memiliki sepotong logam konduktif listrik yang melekat padanya. Ketika button ditekan, sirkuit ditutup antara pin di setiap sisi dan arus dibiarkan mengalir di antara mereka:

Gambar 9. Cara kerja pushbutton

7.     LCD 16x2 I2C.

LCD (Liquid Crystal Display) 16×2 adalah salah satu media penampil yang sangat populer digunakan sebagai interface antara mikrokontroler dengan user nya. Dengan penampil LCD 16×2 ini user dapat melihat/memantau keadaan sensor ataupun keadaan jalanya program. Penampil LCD 16×2 ini bisa di hubungkan dengan Arduino.

Gambar 10. LCD 2x16 i2c

 Inter Integrated Circuit atau sering disebut I2C adalah standar komunikasi serial dua arah menggunakan dua saluran yang didisain khusus untuk mengirim maupun menerima data. Sistem I2C terdiri dari saluran SCL (Serial Clock) dan SDA (Serial Data) yang membawa informasi data antara I2C dengan pengontrolnya. Jika tidak memakai I2C Juga bisa untuk menampilkan text pada LCD akan tetapi harus merangkai semua pin yang berada pada LCD ke Arduino. Jadi disarankan lebih baik menggunakan I2C saja.


8.     Motor DC

Motor DC merupakan perangkat yang dapat mengubah energi listrik menjadi energi kinetik atau gerakan. Motor DC memiliki dua terminal atau kabel, yaitu power dan ground. Motor ini memerlukan tegangan DC agar dapat bergerak. Biasanya digunakan pada perangkat elektronik yang menggunakan sumber listrik DC seperti kipas pendingin komputer dan mobil remote control.

Motor DC menghasilkan sejumlah putaran per menit atau biasa dikenal dengan istilah RPM (revolutions per minute) dan dapat berputar searah jarum jam maupun berlawanan arah jarum jam sehingga tergantung polaritas listrik yang diberikan.

Gambar 11. Symbol dan bentuk motor DC

Motor DC memberikan kecepatan rotasi sekitar 3000 - 8000 rpm dengan tegangan operasional dari 1.5 - 24V. Apabila tegangan yang diberikan lebih rendah dari tegangan operasional, maka akan memperlambat rotasi motor. Apabila tegangan lebih tinggi dari tegangan operasional akan membuat rotasi motor menjadi lebiih cepat. Namun jika tegangan yang diberikan ke motor turun menjadi <50% tegangan operasional, maka motor tidak akan berputar atau terhenti. Sebaliknya, jika tegangan yang diberikan lebih tinggi >30% dari tegangan operasional, maka motor akan sangat panas dan menyebabkan kerusakan.